Tanpa sadar Anna
menjatuhkan air matanya saat membaca isi surat wasiat yang ia pegang.
“Ini
pasti bohong!” ucap Anna dengan perasaan terluka.
Anna
terdiam. Surat wasiat yang baru saja dibacanya digeletakkan begitu saja di
lantai dingin kamar kos-nya.
Sebelum
ia membaca isi surat wasiat itu, Anna berpikir bahwa Indra kekasihnya adalah
orang yang sangat jujur kepadanya. Selama dua tahun mereka berpacaran, hubungan
mereka baik baik saja bahkan sangat baik. Ia tak punya sedikit pun perasaan
curiga pada Indra.
Mata
Anna terbuka kembali, padahal baru lima menit ia menutup matanya. Surat wasiat
dari Indra benar-benar mengganggu pikiranya. Otaknya seakan terus membaca surat
itu dan tak bisa melepasnya.
“Kalau
terus begini, aku bisa terlambat kerja besok pagi!” pekiknya.
Setelah dua kali membaca
isi surat wasiat itu. Ada satu keanehan yang ia temukan.
“Pras.
Siapa dia?”
***
Awal musim hujan menghadirkan
gerimis pagi ini di Bandung, menyejukkan suasana Anna. Ia sangat bersyukur, meski
ia hanya menikmatinya dari balik jendela bus yang ia tumpangi untuk menuju
tempat meeting-nya di luar kantor.
Masih
jelas di ingatannya, kejadian hari itu, di mana Indra telah kembali pada Tuhan.
***
Sebuah pesan masuk ke
handphone Anna.
From: Insania
Anna, cepat datang! Indra meninggal.
Saat
pesan itu masuk ke handphone-nya, Anna sedang sibuk menyiapkan roti bertabur
bubuk greantea dan cream Vanila, kesukaan Indra. Ia siapkan untuk sarapan
Indra. Namun, ia terlambat. Kekasihnya telah pergi selamanya untuk meninggalkan
kehidupan Anna.
Dalam
perjalan ke rumah kontrakan Indra, untuk pertama kalinya Anna tiada hentinya
memaki-maki pekerjaan yang ia cintai. Pekerjaannya sebagai promotor di sebuah perusahaan event organizer membuat ia harus lembur malam itu, hingga tak bisa
menemani Indra yang berjuang melawan masa kritisnya .
“Anna.”
ucap ibu Indra seraya memeluknya. Dalam pelukannya yang erat bercampur tangis, saat
melihat Anna memasuki pintu rumahnya. Anna membalas dengan menyambut
pelukannya.
“Aku
tahu pasti sangat berat untuk seorang ibu kehilangan anak tunggalnya.”
batinnya. Air mata Anna jatuh tak tertahankan mengaliri pipinya. Kedua jari
telunjuknya sedikit ditekan ke matanya agar air mata itu tak kembali jatuh.
Namun ia gagal.
“Ambillah!”
kata seorang pemuda yang sejak tadi duduk di samping menyodorkan se kotak tisu
ke dekat tangan Anna.
Diraihnya
dua lembar tisu. “Terima...terima kasih.” ucap Anna terbata-bata. Anna tak
melihat jelas wajah pria itu yang itu langsung pergi dari hadapannya.
Angin
malam di kota Bandung membantu Anna mengeringkan air matanya saat perjalanan
pulang ke tempat kos-nya.
***
Enam hari setelah
ketiadaan Indra di dunia.
Kepergian
Indra terasa baru kemarin. Mata Anna masih bengkak di peluk duka kehilangan.
Meskipun, setiap harinya Anna di sibuk kan dengan pekerjaan yang menguras pikiran
dan energinya. Kebiasaannya yang menghilang seakan mencengkeram hidupnya.
Setidaknya Ia selalu meluangkan waktu untuk bersama Indra. Namun, hari itu
sudah tidak akan ada lagi. Semangatnya bekerja mulai kendur.
Dering suara
handphone sangat mengganggu telinganya. Dengan setengah sadar Anna beranjak
dari tempat tidurnya. Buru buru ia mengangkat saat melihat nama Ibu Indra yang
ada di layar handphone-nya.
“Anna,
ibu ingin ketemu! Nanti ibu sms alamatnya.” katanya singkat. Nada suaranya
terdengar serak.
“Ya,
Bu.” jawabnya, tak berpikir panjang.
Dalam perjalanan menemui Ibu Indra. Ia mulai
bertanya pada pikirannya. Ada urusan apa hingga ibu Indra ingin menemuinya?
Setahun selama berpacaran dengan Indra, Ia mengenalkan Anna pada ibu dan
keluarga besarnya. Namun, ia tak pernah sekali pun bertemu di luar rumah.
Coffe Latte pesanan
mereka telah datang.
Mereka
memilih kursi yang menghadap ke taman Cafe. Ibu Indra meniup perlahan coffe
latte miliknya kemudian meminumnya sedikit demi sedikit.
“Selera
Ibu sama dengan Indra” ungkap Anna yang sedari tadi memperhatikan wanita paruh
baya yang ada di depannya.
“Emm,
iya,”
Lima
menit mereka lewatkan dengan diam.
“Anna,
maafkan Indra, yah.” katanya sambil meraih tangan Anna. Genggaman nya terasa
sangat erat di tangan Anna.
“Ya,
bu. Indra adalah pria paling baik yang pernah ku temui.”
Ia
menggelengkan kepala, “Mungkin, Ada yang Indra belum sempat sampaikan sama
kamu,” Matanya memandangi wajah Anna kemudian, tertunduk lesuh. “Saat Indra
dilarikan ke rumah sakit, ia ingin sekali bertemu denganmu... Ada surat wasiat
yang tertinggal di meja kerjanya.”
“Surat
wasiat!” seru Anna. Sebuah amplop yang tertulis “Untukmu Anna” ditaruhnya di
meja cafe.
Pikiran
Anna terasa gamang. Sebenarnya ia sangat ingin cepat-cepat membuka surat wasiat itu, namun
ia tahan. Anna sadar bahwa harus menjaga perasaan Ibu Indra. Surat wasiat itu
di taruh di dalam tas hitam kesayangannya.
Tawaran
Anna untuk mengantar nya pulang di tolak. Ia beralasan angin sore di Bandung
cukup dingin. Wanita paruh baya lebih memilih menaiki bus umum.
***
Segera setelah sampai di
rumah, Anna mengambil surat wasiat yang tersimpan dalam tas. Tangannya
sedikit gemetar membaca surat wasiat yang ditulis Indra.
Untukmu Anna
Aku tahu kamu adalah perempuan yang begitu luar biasanya mencintai-ku. Tapi, aku bukan pria yang pantas mendapatkan cintamu, Anna. Tapi, aku sangat ingin ada di dekat-mu. Mungkin sudah seharusnya aku jujur padamu. Sebenarnya, aku telah berpacaran dengan Insan setahun
setelah kita pacaran. Maafkan aku yang menyakitimu, kamu pasti membenci ku setelah membaca surat ini. Anna, kamu layak mendapatkan seseorang yang pantas untukmu. Dia adalah Pras. Jangan menunggu takdir mempertemukan kalian berdua.
Setelah
itu rasa cintanya pada Indra kandas seketika, dan hanya tersisa sebuah kemarahan.
Sesuatu yang tak bisa ia terima adalah, bahwa Insan sahabatnya-lah yang membuat
hubungan Anna dan Indra mempunyai jarak.
Perlahan
Anna mengambil nafas menenangkan dirinya. "Ya Tuhan, bantu aku untuk bisa ikhlas memaafkan, Indra."
***
“Ya, apa saya harus
turun disini?” “Mungkin, ini hampir sampai, Bu.”
Anna
terkejut. Seketika kenangan pahit-nya buyar. Anna ter-sadar, saat mendengar
percakapan pria yang duduk di sampingnya, ia melirik pria itu sedang sibuk
dengan handphone-nya. Anna bingung ingin membantu pria yang di sebelah-nya atau
tidak.
Anna,
menepis keraguan-nya.
“Mau turun dimana?” tanyanya.
Pria
itu menoleh ke arah Anna. “Halte Bus di jalan Mawar” jawabnya sambil menaruh handphone
di saku celananya.
“Sekitar
lima puluh meter dari sini.” Anna menatap ke wajah pria itu. Ia merasa tidak
asing.
“Benarkah!
Kalau begitu aku turun duluan, yah!” serunya, kemudian pria itu segera berdiri
dari tempat duduknya. Ia tersenyum dengan bibir tipisnya, lalu pergi. Mata
coklat tuanya mengingatkan Anna pada seseorang. Seperti gerimis yang meninggal embun. wajah pria itu membuat rasa penasaran Anna. Bukan karena ia terpesona dengan mata pria itu, melainkan ia terlihat seperti tidak asing dalam hidupnya.
Anna
menengok ke luar dari kaca jendela, sambil mengelap embun yang menempel di kaca jendela bus. Di balik kaca,Ia bisa melihat, pria yang tadi duduk di sampingnya turun di sebuah
halte Bus, lalu seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan pelukan.
Sangat jelas terlihat bahwa wanita yang menyambut pria itu tidak lain adalah
ibu Indra.
Anna
meminta kernet bus menurunkan-nya di halte yang sama.
***
Perlahan Anna berjalan di tengah gerimis menuju rumah
orangtua Indra. Ia berhenti sejenak ketika melihat pria itu dan ibu Indra
memasuki rumah Indra.
“Anna dimana?” Anna membaca pesan dari teman satu tim di
handphone-nya
“aku masih di luar. Aku datang terlambat” balas Anna.
Satu
jam berlalu, Anna masih bertahan dengan segala sabarnya. Ia tak mengerti apa
yang ia tunggu sebenarnya. Ketika kakinya berdiri dan ingin beranjak pergi
namun, pikirannya seakan menahan itu semua.
Pintu
pagar rumah keluarga Indra terbuka. Nampak pria yang berpakaian kemeja biru
muda itu keluar. Ia berjalan tanpa menoleh ke arah Anna yang tak jauh dari
pintu pagar. Perlahan Anna menyusuri jejaknya. Namun, mendadak, pria itu membalikkan
badannya dan menatap Anna. Buru-buru Anna menundukkan payungnya agar tak
terlihat.
Pria itu sekarang ada di
hadapannya.
“Hai.
Gerimis-nya sudah selesai dari tadi,”. Anna bungkam. “Aku pras. Masih ingat?” lanjutnya.
“Pras.”
ucapnya mengulangi perkataan pras.
Anna membiarkan wajahnya
terlihat dari balik payung. Setelah mengamati Pria yang berdiri di hadapannya, Anna terkejut. Pikiranku benar-benar sudah tidak waras, sampai tidak bisa mengenali Pras. Batin Anna.
***
Teh beraroma mint
disodorka-nya ke dekat Anna. “Ini akan menghangatkanmu.” kata Pras.
Pras
sahabat masa kecilnya saat ia tinggal bersama orang tuanya di Garut. Saat Anna
pertama kali pindah ke kota bandung untuk kuliah, ia mengenalkannya pada Indra.
Namun, setelah mengenal Indra lebih dekat Anna malah melupakan sahabatnya. Pras
pun terus menghindarinya.
“Aku
minta maaf, Pras. Aku tak bisa mengenali-mu sama sekali. Aku tadi sengaja mengikuti-mu sampai ke rumah Indra, karena aku
merasa sama sekali tidak asing.”
“Sudahlah, Anna” ucapnya sambil meraih cangkir tehnya kemudian di teguknya.
“Kenapa
kamu tadi tidak menyapa-ku saat bertemu di bus?”
“Aku, takut kehadiran-ku itu mengganggu. Saat Indra meninggal, kamu tak berhenti
menangis.”
“Kamu
datang?!” tanya Anna, kesedihan-nya saat kematian Indra membuatnya seakan tak
sadar, siapa saja yang datang ke rumah duka saat itu.
Pras
menganggukkan kepalanya. “Kalau aku tak memberikan-mu tisu mungkin, rumah Ibu
sudah banjir malam itu.” katanya menghibur Anna.
Surat wasiat yang ada
dalam tas diperlihatkannya pada Pras.
“Kalau
kamu tahu sesuatu, tolong jelaskan!”
Diambilnya
surat itu dari tangan Anna. Ia menggigit bibir bawahnya. Bahunya disandarkan
ke kursi, ketika membaca isi surat wasiat yang di tulis Indra. Ekpresinya sama
sekali tak berubah lalu, diserahkannya kembali surat itu pada Anna.
“Aku
sudah tahu kalau dia berpacaran dengan Insan, setelah setahun bersamamu. Aku
ingin cerita saat itu tapi, aku takut itu semua bercampur dengan perasaan-ku
sendiri.” jelasnya.
“Maksudmu,
Pras?”
“Emm.
Sebenarnya sudah lama aku menyukaimu Anna. Entah kamu tahu atau tidak. Indra
juga mengetahui perasaanku itu.” mata Pras berkaca-kaca mengungkapkannya.
“Seharusnya
kamu bicara Pras. Tentang pengkhianatan Insan atau tentang ...perasaanmu.”
Pras
terpaku mendengar ucapan sahabatnya. Ia sangat merasa bersalah karena, Anna harus dikhianati tiga orang terdekatnya
sekaligus.
“Maaf.
Anna, yang aku pikirkan saat itu, kau mencintai Indra dan aku benar benar tidak
ingin memanfaatkannya hanya karena, aku juga suka.” Pras menunduk, wajahnya
terlihat pucat karena diliputi rasa bersalah yang sangat besar pada Anna.
“Aku
memaafkanmu, Pras. Aku juga sudah lima tahun melupakan-u begitu saja.”
Surat
wasiat itu seakan bom waktu yang telah dipersiapkan untuk Anna. Tapi, setelah
surat wasiat itu meledak hidupnya, ia seakan bisa bernapas kembali. Ia tidak tahu
bagaimana jadinya jika ia mengetahui kebenaran tanpa surat itu. Tentang Pras, Anna menyerahkannya semua itu pada takdir, dan hatinya. Tapi, yang pasti, ia sangat berterima kasih pada Indra, karena surat itu ia menyadari bahwa ada seseorang yang mencintai kita, yang kita tidak sadari, hingga akhirnya terabaikan.

No comments:
Post a Comment