Friday, September 22, 2017

SURAT WASIAT UNTUK ANNA (CERPEN)



Tanpa sadar Anna menjatuhkan air matanya saat membaca isi surat wasiat yang ia pegang.
“Ini pasti bohong!” ucap Anna dengan perasaan terluka.
Anna terdiam. Surat wasiat yang baru saja dibacanya digeletakkan begitu saja di lantai dingin kamar kos-nya.
Sebelum ia membaca isi surat wasiat itu, Anna berpikir bahwa Indra kekasihnya adalah orang yang sangat jujur kepadanya. Selama dua tahun mereka berpacaran, hubungan mereka baik baik saja bahkan sangat baik. Ia tak punya sedikit pun perasaan curiga pada Indra.
Mata Anna terbuka kembali, padahal baru lima menit ia menutup matanya. Surat wasiat dari Indra benar-benar mengganggu pikiranya. Otaknya seakan terus membaca surat itu dan tak bisa melepasnya.
“Kalau terus begini, aku bisa terlambat kerja besok pagi!” pekiknya.
Setelah dua kali membaca isi surat wasiat itu. Ada satu keanehan yang ia temukan.
“Pras. Siapa dia?”
***
Awal musim hujan menghadirkan gerimis pagi ini di Bandung, menyejukkan suasana Anna. Ia sangat bersyukur, meski ia hanya menikmatinya dari balik jendela bus yang ia tumpangi untuk menuju tempat meeting-nya di luar kantor.
Masih jelas di ingatannya, kejadian hari itu, di mana Indra telah kembali pada Tuhan.
***
Sebuah pesan masuk ke handphone Anna.
From: Insania
Anna, cepat datang! Indra meninggal.
Saat pesan itu masuk ke handphone-nya, Anna sedang sibuk menyiapkan roti bertabur bubuk greantea dan cream Vanila, kesukaan Indra. Ia siapkan untuk sarapan Indra. Namun, ia terlambat. Kekasihnya telah pergi selamanya untuk meninggalkan kehidupan Anna.
Dalam perjalan ke rumah kontrakan Indra, untuk pertama kalinya Anna tiada hentinya memaki-maki pekerjaan yang ia cintai. Pekerjaannya sebagai promotor di sebuah perusahaan event organizer membuat ia harus lembur malam itu, hingga tak bisa menemani Indra yang berjuang melawan masa kritisnya .
“Anna.” ucap ibu Indra seraya memeluknya. Dalam pelukannya yang erat bercampur tangis, saat melihat Anna memasuki pintu rumahnya. Anna membalas dengan menyambut pelukannya.
“Aku tahu pasti sangat berat untuk seorang ibu kehilangan anak tunggalnya.” batinnya. Air mata Anna jatuh tak tertahankan mengaliri pipinya. Kedua jari telunjuknya sedikit ditekan ke matanya agar air mata itu tak kembali jatuh. Namun ia gagal.
“Ambillah!” kata seorang pemuda yang sejak tadi duduk di samping menyodorkan se kotak tisu ke dekat tangan Anna.
Diraihnya dua lembar tisu. “Terima...terima kasih.” ucap Anna terbata-bata. Anna tak melihat jelas wajah pria itu yang itu langsung pergi dari hadapannya.
Angin malam di kota Bandung membantu Anna mengeringkan air matanya saat perjalanan pulang ke tempat kos-nya.
***
Enam hari setelah ketiadaan Indra di dunia.
Kepergian Indra terasa baru kemarin. Mata Anna masih bengkak di peluk duka kehilangan. Meskipun, setiap harinya Anna di sibuk kan dengan pekerjaan yang menguras pikiran dan energinya. Kebiasaannya yang menghilang seakan mencengkeram hidupnya. Setidaknya Ia selalu meluangkan waktu untuk bersama Indra. Namun, hari itu sudah tidak akan ada lagi. Semangatnya bekerja mulai kendur.
Dering suara handphone sangat mengganggu telinganya. Dengan setengah sadar Anna beranjak dari tempat tidurnya. Buru buru ia mengangkat saat melihat nama Ibu Indra yang ada di layar handphone-nya.
“Anna, ibu ingin ketemu! Nanti ibu sms alamatnya.” katanya singkat. Nada suaranya terdengar serak.
“Ya, Bu.” jawabnya, tak berpikir panjang.
 Dalam perjalanan menemui Ibu Indra. Ia mulai bertanya pada pikirannya. Ada urusan apa hingga ibu Indra ingin menemuinya? Setahun selama berpacaran dengan Indra, Ia mengenalkan Anna pada ibu dan keluarga besarnya. Namun, ia tak pernah sekali pun bertemu di luar rumah.
Coffe Latte pesanan mereka telah datang.
Mereka memilih kursi yang menghadap ke taman Cafe. Ibu Indra meniup perlahan coffe latte miliknya kemudian meminumnya sedikit demi sedikit.
“Selera Ibu sama dengan Indra” ungkap Anna yang sedari tadi memperhatikan wanita paruh baya yang ada di depannya.
“Emm, iya,”
Lima menit mereka lewatkan dengan diam.
“Anna, maafkan Indra, yah.” katanya sambil meraih tangan Anna. Genggaman nya terasa sangat erat di tangan Anna.
“Ya, bu. Indra adalah pria paling baik yang pernah ku temui.”
Ia menggelengkan kepala, “Mungkin, Ada yang Indra belum sempat sampaikan sama kamu,” Matanya memandangi wajah Anna kemudian, tertunduk lesuh. “Saat Indra dilarikan ke rumah sakit, ia ingin sekali bertemu denganmu... Ada surat wasiat yang tertinggal di meja kerjanya.”
“Surat wasiat!” seru Anna. Sebuah amplop yang tertulis “Untukmu Anna” ditaruhnya di meja cafe.
Pikiran Anna terasa gamang. Sebenarnya ia sangat ingin cepat-cepat membuka surat wasiat itu, namun ia tahan. Anna sadar bahwa harus menjaga perasaan Ibu Indra. Surat wasiat itu di taruh di dalam tas hitam kesayangannya.
Tawaran Anna untuk mengantar nya pulang di tolak. Ia beralasan angin sore di Bandung cukup dingin. Wanita paruh baya lebih memilih menaiki bus umum.
***
Segera setelah sampai di rumah, Anna mengambil surat wasiat yang tersimpan dalam tas. Tangannya sedikit gemetar membaca surat wasiat yang ditulis Indra.
Untukmu Anna
Aku tahu kamu adalah perempuan yang begitu luar biasanya mencintai-ku. Tapi, aku bukan pria yang pantas mendapatkan cintamu, Anna. Tapi, aku sangat ingin ada di dekat-mu. Mungkin sudah seharusnya aku jujur padamu.  Sebenarnya, aku telah berpacaran dengan Insan setahun setelah kita pacaran. Maafkan aku yang menyakitimu, kamu pasti membenci ku setelah membaca surat ini. Anna, kamu layak mendapatkan seseorang yang pantas untukmu. Dia adalah Pras. Jangan menunggu takdir mempertemukan kalian berdua. 
Setelah itu rasa cintanya pada Indra kandas seketika, dan hanya tersisa sebuah kemarahan. Sesuatu yang tak bisa ia terima adalah, bahwa Insan sahabatnya-lah yang membuat hubungan Anna dan Indra mempunyai jarak.
Perlahan Anna mengambil nafas menenangkan dirinya. "Ya Tuhan, bantu aku untuk bisa ikhlas memaafkan, Indra."
***
“Ya, apa saya harus turun disini?” “Mungkin, ini hampir sampai, Bu.”
Anna terkejut. Seketika kenangan pahit-nya buyar. Anna ter-sadar, saat mendengar percakapan pria yang duduk di sampingnya, ia melirik pria itu sedang sibuk dengan handphone-nya. Anna bingung ingin membantu pria yang di sebelah-nya atau tidak.
Anna, menepis keraguan-nya. 
“Mau turun dimana?” tanyanya.
Pria itu menoleh ke arah Anna. “Halte Bus di jalan Mawar” jawabnya sambil menaruh handphone di saku celananya.
“Sekitar lima puluh meter dari sini.” Anna menatap ke wajah pria itu. Ia merasa tidak asing.
“Benarkah! Kalau begitu aku turun duluan, yah!” serunya, kemudian pria itu segera berdiri dari tempat duduknya. Ia tersenyum dengan bibir tipisnya, lalu pergi. Mata coklat tuanya mengingatkan Anna pada seseorang. Seperti gerimis yang meninggal embun. wajah pria itu membuat rasa penasaran Anna. Bukan karena ia terpesona dengan mata pria itu, melainkan ia terlihat seperti tidak asing dalam hidupnya.
Anna menengok ke luar dari kaca jendela, sambil mengelap embun yang menempel di kaca jendela bus. Di balik kaca,Ia bisa melihat, pria yang  tadi duduk di sampingnya turun di sebuah halte Bus, lalu seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan pelukan. Sangat jelas terlihat bahwa wanita yang menyambut pria itu tidak lain adalah ibu Indra.
Anna meminta kernet bus menurunkan-nya di halte yang sama.
***
Perlahan Anna berjalan di tengah gerimis menuju rumah orangtua Indra. Ia berhenti sejenak ketika melihat pria itu dan ibu Indra memasuki rumah Indra.
“Anna dimana?” Anna membaca pesan dari teman satu tim di handphone-nya     
“aku masih di luar. Aku datang terlambat” balas Anna.
Satu jam berlalu, Anna masih bertahan dengan segala sabarnya. Ia tak mengerti apa yang ia tunggu sebenarnya. Ketika kakinya berdiri dan ingin beranjak pergi namun, pikirannya seakan menahan itu semua.
Pintu pagar rumah keluarga Indra terbuka. Nampak pria yang berpakaian kemeja biru muda itu keluar. Ia berjalan tanpa menoleh ke arah Anna yang tak jauh dari pintu pagar. Perlahan Anna menyusuri jejaknya. Namun, mendadak, pria itu membalikkan badannya dan menatap Anna. Buru-buru Anna menundukkan payungnya agar tak terlihat.
Pria itu sekarang ada di hadapannya.
“Hai. Gerimis-nya sudah selesai dari tadi,”. Anna bungkam. “Aku pras. Masih ingat?” lanjutnya.
“Pras.” ucapnya mengulangi perkataan pras.
Anna membiarkan wajahnya terlihat dari balik payung. Setelah mengamati Pria yang berdiri di hadapannya, Anna terkejut. Pikiranku benar-benar sudah tidak waras, sampai tidak bisa mengenali Pras. Batin Anna.
***
Teh beraroma mint disodorka-nya ke dekat Anna. “Ini akan menghangatkanmu.” kata Pras.
Pras sahabat masa kecilnya saat ia tinggal bersama orang tuanya di Garut. Saat Anna pertama kali pindah ke kota bandung untuk kuliah, ia mengenalkannya pada Indra. Namun, setelah mengenal Indra lebih dekat Anna malah melupakan sahabatnya. Pras pun terus menghindarinya.
“Aku minta maaf, Pras. Aku tak bisa mengenali-mu sama sekali. Aku tadi sengaja mengikuti-mu sampai ke rumah Indra, karena aku merasa sama sekali tidak asing.”
“Sudahlah, Anna” ucapnya sambil meraih cangkir tehnya kemudian di teguknya.
“Kenapa kamu tadi tidak menyapa-ku saat bertemu di bus?”
“Aku, takut kehadiran-ku itu mengganggu. Saat Indra meninggal, kamu tak berhenti menangis.”
          “Kamu datang?!” tanya Anna, kesedihan-nya saat kematian Indra membuatnya seakan tak sadar, siapa saja yang datang ke rumah duka saat itu.
Pras menganggukkan kepalanya. “Kalau aku tak memberikan-mu tisu mungkin, rumah Ibu sudah banjir malam itu.” katanya menghibur Anna.
Surat wasiat yang ada dalam tas diperlihatkannya pada Pras.
“Kalau kamu tahu sesuatu, tolong jelaskan!”
Diambilnya surat itu dari tangan Anna. Ia menggigit bibir bawahnya. Bahunya disandarkan ke kursi, ketika membaca isi surat wasiat yang di tulis Indra. Ekpresinya sama sekali tak berubah lalu, diserahkannya kembali surat itu pada Anna.
“Aku sudah tahu kalau dia berpacaran dengan Insan, setelah setahun bersamamu. Aku ingin cerita saat itu tapi, aku takut itu semua bercampur dengan perasaan-ku sendiri.” jelasnya.
“Maksudmu, Pras?”
“Emm. Sebenarnya sudah lama aku menyukaimu Anna. Entah kamu tahu atau tidak. Indra juga mengetahui perasaanku itu.” mata Pras berkaca-kaca mengungkapkannya.
“Seharusnya kamu bicara Pras. Tentang pengkhianatan Insan atau tentang ...perasaanmu.”
Pras terpaku mendengar ucapan sahabatnya. Ia sangat merasa bersalah karena,  Anna harus dikhianati tiga orang terdekatnya sekaligus.
“Maaf. Anna, yang aku pikirkan saat itu, kau mencintai Indra dan aku benar benar tidak ingin memanfaatkannya hanya karena, aku juga suka.” Pras menunduk, wajahnya terlihat pucat karena diliputi rasa bersalah yang sangat besar pada Anna.
“Aku memaafkanmu, Pras. Aku juga sudah lima tahun melupakan-u begitu saja.”
Surat wasiat itu seakan bom waktu yang telah dipersiapkan untuk Anna. Tapi, setelah surat wasiat itu meledak hidupnya, ia seakan bisa bernapas kembali. Ia tidak tahu bagaimana jadinya jika ia mengetahui kebenaran tanpa surat itu. Tentang Pras, Anna menyerahkannya semua itu pada takdir, dan hatinya. Tapi, yang pasti, ia sangat berterima kasih pada Indra, karena surat itu ia menyadari bahwa ada seseorang yang mencintai kita, yang kita tidak sadari, hingga akhirnya terabaikan.

No comments:

Post a Comment