Friday, September 22, 2017

SEPENGGAL KISAH MARYUMAH (PART 2) CERPEN



 "Dalam gelap yang begitu pekat, cahaya mampu bersinar menembus dinding keras, meski lewat celah-celah kecil sekalipun."
“Kita turun di sini ya! Lebih aman.”
Dengan pasrah, Maryumah berjalan mengikuti suaminya untuk turun dari andong yang membawanya dalam perjalanan yang melelahkan. Untung saja, tadi Umar melihat ketika ada teng rombongan tentara Jepang yang akan melintasi jalan yang sama dengan mereka. Semak belukar, dan hutan jati terpaksa mereka lewati dengan berjalan kaki.
Umar berjalan di samping Maryumah. Nampak jelas di wajah Istrinya, bahwa ia sangat kelelahan.
“Kita berhenti dulu di sini!” seru Umar, seraya menggandeng istrinya untuk duduk di atas batu.
Maryumah mendekap putri sulungnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan sebelah-nya sibuk menyeka keringat yang mulai membanjiri dahinya.
“Sabarlah, sebentar lagi sudah sampai.” ucap Umar.
Entah berapa kilo meter lagi ia harus melangkah kakinya yang mulai kelelahan, di tambah lagi ia berjalan tepat matahari di atas kepala mereka. Maryumah mencoba menahan rasa mual,  dan nyeri yang sesekali datang. Ia tahu apa yang di lakukan Umar, untuk keselamatan ia dan anaknya.
***
Umar nampak begitu gagah, tapi bukan di mata Maryumah sebagai istrinya, melainkan di mata penduduk yang menggantungkan nasibnya selama dua tahun ini. Suaminya kini bertugas sebagai pimpinan gerakan pemuda Hasbullah di desa Kencong, Jember. Kesibukannya, membuatnya jarang membacakan Maryumah buku cerita roman lagi, yang dulu ia lakukan setiap menjelang tidur. Meski, istrinya kini sudah pandai membaca buku berbahasa Indonesia.
Setiap malam, Maryumah di penuhi dengan perasaan kekhawatiran. Ia tak sengaja mendengar percakapan anggota gerakan Hasbullah, bahwa suaminya sudah mulai menjadi incaran tentara jepang. Malam di tempat ini begitu gelap, penduduk takut untuk menyalakan lampu templok. ada perasaan ia ingin kembali ke tempat kelahirannya, tapi ia tak mungkin sanggup meninggalkan Umar sendirian.
Rasa kekhawatiran yang tak kunjung selesai menjalar ke janin  Maryumah, ia harus merelakan anak yang masih dalam kandungan delapan bulan, anaknya yang sudah tak bernyawa terpaksa dilahirkan. Maryumah begitu terpukul, melihat bayi laki-lakinya meninggal, begitu juga Umar, ia sangat menyesal tidak bisa menjaga istrinya.
Air mata Maryumah seakan tak mau berhenti, padahal kematian bayinya sudah lewat satu minggu. Demi kebaikan sang Istri, Umar menitipkan putri sulungnya yang bernama Asiyah ke ibu angkat yang juga tinggal di daerah Jember.
Malam itu begitu dingin, Namun Maryumah menguatkan diri untuk terjaga. Melihat suaminya yang berbaring begitu pulas di sampingnya, ia tidak ingin membangunkan suaminya. Tapi, kebaikan bukan hanya untuknya, namun untuk kebaikan keluarga. Di tengah malam, itu mereka berdua bertasbih, bersujud kepada Allah sebagai sang pencipta, dan Zat yang membolak-balikkan. Ter-sisip doa diantara dua pasangan tersebut, agar putri sulungnya bisa kembali dekat pada mereka, dan agar mereka kembali di karunia anak.
Meski ngantuk terdera, selama beberapa bulan, Maryumah dan Umar selalu terjaga saat tengah malam tiba, saat yang terdengar hanyalah suara ayam yag berkokok saling bersahutan. Hingga, setelah enam bulan, tibalah waktunya doa mereka terjawab.Begitu bahagianya Maryumah merawat janin di dalam kandungannya, hingga setelah sembilan bulan, ia melahirkan seorang putri kecil yang begitu cantik, yang ia beri nama Amira.
Setelah beberapa tahun kelahiran Amira, Maryumah dikaruniai dua orang anak laki-laki.
***
Bahagia tak terkira yang dirasakan pasangan suami istri, ketika mereka kembali ke tempat asal Maryumah. Kepemimpinan Umar yang tegas membuat Maryumah menjadi lebih tangguh. Ia seperti tak kenal takut. Meski, letusan Meriam terdengar ketika ia berjalan ribuan kilo meter.
Lima belas tahun, setelah kebebasan Indonesia dari penjajah, Umar di angkat sebagai ketua pengadilan. Tapi, Umar juga tidak membiarkan ilmunya hilang begitu saja, ia menjadi seorang guru di sekolah rakyat. Maryumah begitu bangga dan kagum dengan suaminya. Sebagai istri yang sholehah, ia menjaga ke dua belas anaknya yang masih kecil-kecil, untuk menutupi kebutuhan suaminya, Maryumah menerima upah dari hasil menjahit baju.
Keluarga mereka begitu di sanjung dan dihormati oleh para tetangga. Sampai akhirnya, di suatu malam yang di selimuti hawa dingin. Membalikkan hidup mereka. Diam-diam, Amira pergi dari rumah melewati gelapnya malam, air sungai yang tenang seakan ikut menyembunyikan kepergian-nya.
Bersambung

No comments:

Post a Comment