Monday, September 25, 2017

WAKTU ITU (PUISI)


Waktu itu, di bulan September tahun lalu.
Sinar mentari begitu menyengat, tapi aku tak peduli.
Aku terus saja berlari hingga jatuh berkali-kali.
Aku tak hentinya mengejar bayang yang ada di depanku.

Waktu aku berada di hadapanmu, aku sadar akan sesuatu.
Aku sadar, bayangmu dan bayangku tak pernah menyatu.
Saat itu kau akhirnya mengaku, bahwa selama ini kau hanya menjelma.
Mendengar perkataanmu, tubuhku langsung hancur menjadi tanah.

Angin berembus kencang, hingga membuatku retak.
Aku telah menjadi tanah kering di musim kemarau.
Daun-daun gugur pun tak bisa membantu.
Padahal mereka telah rela membusuk bersamaku.

Aku lelah dengan musim yang menyakitkan itu.
Kubiarkan angin menusuk, hingga aku semakin pecah.
Ketika aku pasrah, tiba-tiba hujan menyapaku mesra.
Hingga rintik-rintik nya mampu membuatku merindukan waktu itu.

No comments:

Post a Comment