Waktu itu, di bulan September tahun lalu.
Sinar mentari begitu menyengat, tapi aku
tak peduli.
Aku terus saja berlari hingga jatuh
berkali-kali.
Aku tak hentinya mengejar bayang yang
ada di depanku.
Waktu aku berada di hadapanmu, aku
sadar akan sesuatu.
Aku sadar, bayangmu dan bayangku tak
pernah menyatu.
Saat itu kau akhirnya mengaku, bahwa
selama ini kau hanya menjelma.
Mendengar perkataanmu, tubuhku langsung hancur
menjadi tanah.
Angin berembus kencang, hingga membuatku retak.
Aku telah menjadi tanah kering di musim
kemarau.
Daun-daun gugur pun tak bisa membantu.
Padahal mereka telah rela membusuk bersamaku.
Aku lelah dengan musim yang menyakitkan itu.
Kubiarkan angin menusuk, hingga aku semakin pecah.
Ketika aku pasrah, tiba-tiba hujan
menyapaku mesra.
Hingga rintik-rintik nya mampu membuatku
merindukan waktu itu.

No comments:
Post a Comment