KALIAN PASTI PERNAH BELAJAR TENTANG SUDUT PANDANG DALAM MATERI BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH ATAU KULIAH, KAN?jangan-jangan udah lupa!
Sudut pandang itu adalah siasat atau cara penulis dalam menyampaikan isi ceritanya. Kenapa siasat, karena tekhnik menulis ini mempengaruhi isi cerita. KOK, BISA?
Sudut pandang ada 3. ke 1, dinamakan sudut pandang orang pertama, gaya menulisnya kayak orang lagi curhat. Contoh: Aku, gue, saya. ke 2, dinamakan sudut pandang orang kedua, gaya penulisannya kayak kita lagi nulis diary. Contoh: Kamu, Kau, atau langsung tulis nama orang yang mau diceritain. Terakhir, sudut pandang orang ke 3, Contoh: dia, ia, atau lebih dikenal dengan teknik maha tahu.
Kalau kalian pernah baca novel terjemahan The Kite Runner karya Khaled Hosseini yang menggunakan gaya sudut pandang "Aku" , atau kalian yang suka baca Wattpad, ada penulis muda Vanesa Marcella dari karya pertamannya Friend Zone yang menggunakan sudut pandang orang pertama "Gue". Gaya penulisan sudut pandang orang pertama itu membuat pembaca kayak lagi diajak curhat sama penulisnya langsung. kelebihan tekhik ini, pembaca merasa lebih deket sama penulisnya. kekurangannya karena penulis menjelma jadi pemeran utama dalam cerita, jadi nggak boleh sok tahu tentang isi hati, pikiran karakter lain. Tapi, boleh tiru tekhik yang dipakai sama Vanesa. Penulis menjelma jadi dua karakter utama, jadi dari sisi karakter utama perempuan, dan sisi karakter utama laki-laki. Meskipun, aku nggak suka sama cerita novel Friend Zone, alsasannya terlalu tua untuk umurku baca novel yang remaja pake banget, tapi aku suka dan hargain banget cara dia menyampaikan ceritanya, mengalir.
Jujur, aku baru pertama kalinya baca novel yang sudut pandang orang ke 2. Berkat penulis Fahd Pahdepie, aku jadi nggak buta. Judulnya Jodoh, awalnya nggak begitu tertarik dengan judulnya, tapi..... Aku merasa kayak baca diary punya Sena, karakter cowok yang ada dalam cerita. Sena kayak lagi nulis buat Keara, pemeran utama perempuan. Kelebihan sudut pandang orang ke 2 ini, kita jadi pengin lebih deket sama karakter yang menceritakan. Kekurangannya, hampir sama dengan sudut pandang orang pertama.
Kalian yang suka curhat di sosmed, mungkin cocok, nih menggunakan sudut pandang orang pertama sama kedua.
Paling bontot, sudut pandang orang ke tiga, dari puluhan novel yang aku baca, rata-rata menggunakan sudut pandang ini. Penulis Dewi Lestari dengan novel Perahu Kertas, penulis Clara Ng novel Jampi-jampi Varaiya, dan Tisa TS novel Magic Hours, dan banyak yang lainnya. Ya, kayak lagi baca novel pada umumnya, pembaca jadi tahu segala pikiran, perasaan dari semua karakter. Kelebihannya Penulis menjelma jadi cenanyang, maha tahu segala pikiran, dan perasaan karakter. jadi, banyak yang bisa diceritakan. Kekurangannya, karena penulis nggak ikut serta dalam cerita, pembaca nggak bisa sedeket atau pengin deket, kayak sudut pandang orang pertama dan kedua. Tapi, pinter-pinter gimana kita siasati menggambarkannya dalam novel, hingga pembaca bisa berimajinasi.
Naskah novel pertama yang aku buat menggunakan tekhik sudut pandang orang ketiga, karena aku masih dalam tahap coba-coba. Aku pikir, karena aku penulis pemula, jadi aku bisa lebih banyak menceritakan karakter yang aku buat. Apalagi aku bukan orang yang suka curhat, atau pasang status di sosmed. Tapi ternyata, setelah selesai nulis, aku nyaman ber-narasi. Insyaallah, naskah novelku yang kedua pengin pake sudut pandang orang pertama. Ya, beginilah, aku penulis dalam fase menemukan jati diri.
No comments:
Post a Comment