Tuesday, February 7, 2017

GAIRAH MENULIS-KU

Sebenarnya, aku pengin istirahatin otak setelah rampung nulis novel. Eee, baru aja pagi-pagi buta tadi, aku kirim novel ke email. Mau tidur siang, dapet ide buat nulis cerpen, dan aku sudah kirim ke majalah. Mau tidur malem, dapet ide buat nulis novel ke 2. Kapan aku dan laptop istirahat?
 
Otakku kalau sudah punya ide, nggak bisa berhenti, kalau nggak sampai idenya ditulis. Ya, udalah. Disyukurin aja, daripada dilanda writer blocks, lagi asyik-asyik nulis.
 
Awal aku suka nulis itu sejak SMP. Aku keracunan cerpen-cerpen dari majalah yang aku pernah baca. Begini ceritanya, aku dapet teguran dari Allah berupa sakit. Hmmm, terpaksa aku harus cuti sekolah hampir dua bulan. Sakit, minum obat... Dipeluk stres sama bosen. Lihat keadaanku, Umma (ibu) beliin majalah buat aku baca. Berawal dari keracunan itu, akhirnya aku nulis cerpen, tapi sudah remang-remang, sih ceritanya. Tapi, aku punya pembaca lo! Kakakku sendiri. Heehheh. Aku punya keinginan waktu itu buat nulis novel. Tapi, cuma OmDo.
 
Kumpulan cerpen pertamaku hilang di rental. SMA kelas 11, aku berniat mau kirim cerpenku ke majalah, tapi berhubung nggak punya komputer sendiri di rumah, dan nulisnya pake gaya sebelas jari, pasti makan waktu lama. Jadi, aku percayakan cerpenku diketik di rental itu. Namun, hilang. Entah siapa pencurinya? .Temenku yang juga suka nulis, kumpulan cerpennya hilang di rental yang sama.
 
100% aku percaya, guruku nggak yakin aku bisa nulis cerpen. Dibanding temen aku, tulisanku tergolong berantakan, dan ceritanya dikategori biasa-biasa aja. Cuma karena aku kelihatan semangat banget pengin nulis. Akhirnya, aku dikasih kesempatan buat ikut pelatihan jurnalistik. Alhamdulillah, ya! Di tempat pelatihan itu, aku sadar banget kalau tulisanku super jelek. Aku pengin berubah biar tulisanku lebih baik. Tapi, lagi-lagi itu cuma OmDo.
 
Kendala biaya buat aku nggak langsung ngelanjutin kuliah. Pernah sih, waktu itu kepikiran kuliah sastra. Tapi, itu kayak bentrok sama logikaku. Mau kerja apa, kalau aku cuma ikutin kesenangan aku? .
 
 “Selamat datang pengangguran baru!” Aku nggak mau! Sumpek. Akhirnya, aku memilih ikut les bahasa Inggris. Niatnya, entar kalau cari kerja biar gampangan dikit, soalnya rapot sama Ijazahku masuk golongan standart.
 
Di tempat les, aku malah ketemu sama anak Sastra. Apa ini yang dinamakan jodoh? Mereka yakinin aku buat kuliah jurusan Sastra, karena tahu aku suka baca dan nulis. Masalah biaya itu gampang. Haah! Apakah kuliah Sastra hanya berbekal itu?
 
Aku kuliah di jurusan Sastra Inggris tahun 2011, setahun setelah lulus SMA. Aku sudah yakin banget buat masuk konsentrasi Sastra daripada Linguistik. Tapi, masuk kuliah Sastra, aku ngerasa temen-temen seangkatanku kebanyakan nggak benaran cinta Sastra.  Aku yang suram ini, kelihatan paling menggebu-gebu. Ekspetasi sama kenyataan itu beda! Alasan itu, aku lampiasin buat baca novel sebanyak-banyaknya. Aku mau tulisanku berubah! Kali ini, udah nggak cuma OmDo. Selain tehnik yang aku dapetin dari materi kuliah Sastra. Aku belajar otodidak dari buku-buku panduan yang aku beli.
 
Aku lulus tahun November 2015. Setelah sekian lama tidur panjang, aku bangun, nulis cerpen lagi yang judulnya “Ibu Dyah”. Kesabaranku di uji selama enam bulan, aku nunggu jawaban dari penerbit majalah Femina, dan hasilnya... Ditolak.
 
Berkali-kali aku kirim cerpen ke majalah yang berbeda. Dewasa, remaja, anak-anak. Banyak, ya! Itu karena, aku lagi coba belajar nulis cerpen, dan pengin tahu aja, ciri khusus yang melekat di diri aku sebagai penulis itu apa? Sekarang, samar-samar sudah mulai kelihatan.
 
Dalam sebulan, sudah ada empat belas cerpen yang aku buat..... Emmm, aku pikir, aku bisa mewujudkan keinginan buat nulis novel pertamaku. Kehadiran ide itu belum cukup modal. Aku cari referensi, meneliti nasib percintaan temen-temenku secara diam-diam. Ditambah disiplin dan komitmen. Modal lengkap. Aku mulai nulis novel pertamaku.
 
Aku menulis novelku di atas batas kemampuan, nggak kayak lagi nulis cerpen yang sebelumnya. Aku ngelakuin itu, karena novel pertamaku itu buat kado ultahku. Nggak, mungkin dong! Kado buat diri sendiri, biasa- biasa aja. Harus istimewah! Tekhik yang aku pelajari selama ini, ternyata 10% dari prakteknya. Terbesit sebuah pertanyaan dalam diriku dikala buat novel. Kemana aku selama pelajaran bahasa Indonesia? Sembilan tahun aku belajar ditambah tiga semester waktu kuliah! Tulisanku berantakannya luar biasa! Kasian para Editor, nasib baca tulisan cerpenku. Stress bacanya!
 
Satu tips untuk kalian yang pengin buat novel, atau buku yaitu, “nulis!” tulis aja dulu, nanti tekhnik itu bakal beriringan. Penulis amatir kayak aku gini, nggak ada bedanya sama penyanyi yang ikutin ajang pencarian bakat nyanyi. Mereka nyanyi dulu, kan. Kalau ke pilih, mereka diajarin tekhniknya untuk jadi penyanyi propesional, serta dibekali komitmen dan disiplin. Gagal di ajang satu, ikutan di ajang lainnya. Contohnya, Ismi Riza. Ia gagal di Rising Star, tapi dapet pujian di Xfactor. Sama halnya, kayak penulis pemula kayak kita, nggak keterima sama penerbit satu, mungkin cocok ke penerbit lainnya.
 
Komitmennya Penulis, nyelesai tulisannya. Disiplinnya menulis, waktu dan target nulisnya.

share pengalaman menulis, yuk! lewat emailku zeaalhamid@gmail.com

No comments:

Post a Comment