"Dalam gelap yang begitu pekat, cahaya mampu bersinar menembus dinding keras, meski lewat celah-celah kecil sekalipun."
Ia melirik ke
arah pakaian yang aku kenakan sambil bibirnya membentuk kerucut.
"Baju
apa yang kau pakai tuh, mau (nandak!) Menari!" ucapnya.
Aku
hanya tersenyum geli mendengar ucapan yang keluar dari bibir wanita tua yang
aku panggil baba. (nenek). Ia selalu mengkritik hal-hal yang tidak sama dengan
pemikirannya. Maklum usianya sudah menginjak sembilan puluh, entah berapa usia
yang sebenarnya, ia pun juga tak pernah mengetahui pasti.
"Model
sekarang bajunya ini Baba." kataku.
Spontan
bibirnya manyun mendengar perkataanku.
"Dulu
ya......."
Nah
kalau sudah begini, ia akan menceritakan kisah hidupnya, entah karena faktor
usia atau memang terlalu panjang kisah perjalanan hidupnya, ada saja sepenggal
cerita yang terlewat.
***
Aku
menatap pepohonan yang tumbuh subur di sekitar halaman rumahku, terasa sejuk,
tapi ada rasa sesak di dada ketika melihatnya, dan air mata pun mengalir begitu
saja. Mungkin sebegitu dalamnya luka yang ada di hatinya saat itu, hingga
hari-harinya dilewati dengan menggali tanah untuk di tanami pohon-pohon yang
menjulang tinggi. Hatiku terasa masih belum sanggup melepas kepergian-nya, masih
berharap mendengar ceritanya, mungkin ada sepenggal cerita yang terlewat olehku
saat itu.
Inilah
sepenggal kisah Maryumah. Ialah Maryumah-ku, lahir sebagai gadis desa, setiap
hari ia berkeliling desa untuk menjual singkong rebus, untuk itu ia harus
melewati persawahan, dan sungai kecil yang mengalir deras. Seusai berjualan, ia
mengasuh ponakan-nya yang masih bayi. Terkadang, ia menganggap ada rasa adil
dari perlakuan ibu dan saudara-saudaranya, namun ia tetap menjalani, meski-pun
dalam hatinya sesekali mengeluh.
Seperti
hari biasanya, Maryumah kembali ke rumah setelah langit biru mulai berganti
warna jingga. Saat itu ada seorang laki-laki tua yang datang menemui
ayahnya. Maryumah tak sengaja bertemu dengannya saat melangkah ke dalam
rumah. Dilihat dari pakaian, dan kendaraannya (dokar), ia langsung tahu bahwa
ini tamu penting dari kota.
Lelaki
tua itu tersenyum ke arah Maryumah.
"Itu
siapa? Putrimu?" tanya tamu itu ke ayah Maryumah
"Iya,
Maryam. Putri kecilku."
Tamu
itu menganggukkan kepala.
Setelah
itu mereka berbicara pelan, setengah berbisik. Hingga Maryumah tak dapat
mendengar percakapan ayah dan tamunya.
"Maryam,
Sini!" panggil ayahnya.
Maryam
yang duduk tak jauh dari kursi tamu, segera mendekat ke arah ayahnya.
"Maryam,
nanti kau akan menjadi menantu-nya."
"Iya,
Maryumah mau kan?" tanya tamu itu.
Entah
apa yang di rasakan, detak jantung Maryumah berdetak hebat, padahal tak pernah
sekali-pun ia melihat wajah pria yang akan menjadi suaminya. Mungkin, karena sebelumnya
ia tak pernah menyukai laki-laki.
Hari
telah berganti malam, Maryumah masih terjaga menatap langit-langit rumah yang
terbuat dari anyaman bambu. Pikirannya masih melayang, teringat kejadian siang
tadi. Kenapa tamu itu memintanya untuk menjadi menantu?, pikirnya. Maryumah tak
sadar, meskipun kulit putihnya mulai menggelap karena terkena terik matahari
sepanjang hari, dan keringat yang menetes dari kulit kepala hingga membasahi
pipinya, tapi paras cantik-nya tak bisa di tertutupi. Hidung-nya mancung
sempurna, dan bola mata yang indah, membuat siapa saja tahu bahwa ialah
Maryumah, gadis keturunan arab.
***
Gaun putih
melekat indah di tubuh Maryumah, riasan wajah sederha semakin menegaskan wajah
indahnya. Tangan Maryumah gemetaran ketika melihat laki-laki muda datang
bersama tamu yang mengunjungi rumahnya minggu lalu. Kepalanya ter-tunduk malu saat
laki-laki yang sebentar lagi akan jadi suaminya mencium tangan ayah Maryumah.
"Maryumah
kamu sudah kotor?" tanya salah satu saksi nikah.
Kakak
Maryumah segera menyenggol lengan kanannya.
"Iya."
jawab Maryumah. Meski ia sendiri tak mengerti tentang pertanyaan yang
diajukan untuk dirinya, ia hanya berkata apa yang kakaknya ajarkan kemarin.
Maryumah
diam, bergeming di sudut kamar, ia hanya memandangi suaminya yang
mengeluarkan koper besar yang di bawahnya dari rumah.
“Maryam,
sini!” panggilnya lembut.
Mendengar
laki-laki memanggil namanya, seketika itu nafasnya terasa tidak karuan. Kening
Maryumah mengerut saat melihat isi koper laki-laki yang baru saja dinikahinya
tadi siang. Aneh, pikir Maryumah, ia jauh-jauh membawa koper besar hanya
membawa beberapa pakaian saja. Namun, yang jauh mencengangkan ia malah membawa
tumpukan buku yang hampir memenuhi isi koper-nya.
“Maryumah,
pilihlah buku yang kamu suka!” katanya, sambil melirik kemudian tersenyum ke
arah wajah cantik istrinya.
Kepala
Maryumah ter-tunduk. Tubuhnya merosot, ia duduk dan menutupi kedua matanya.
Laki-laki
ikut duduk di lantai yang terbuat dari semen, ia hanya menatap dengan rasa
bersalah ke arah Maryumah tanpa berkata sedikitpun. Perlahan, ia mengusap
lembut tangan isterinya, yang isak tangisnya masih terdengar.
“Maryam,
Kenapa? Ada apa?”
“Umar,
aku tidak bisa baca, apalagi harus membaca buku setebal itu.”
Umar
memberanikan diri membuka kedua tangan yang masih menutupi wajah Maryumah. “Kalau
hanya itu, aku akan membacakan-nya untukmu malam ini, tapi hari berikutnya kau
yang baca.”
“Umar
aku tidak bisa baca.” ucapnya sekali lagi.
“Aku
yang akan mengajar sampai kau bisa.”
Di
bawah sinar lampu templok yang sinar-nya hanya menerangi ke wajah mereka berdua,
Umar membacakan pelan-pelan cerita roman untuk Maryumah.
***
Umar sudah
bersiap diri untuk pergi ke luar kota, mencari pengalaman hidup bersama isteri
dan putri sulungnya. Sebenarnya, Maryumah sangat berat meninggal tanah tempat
ia dilahirkan, meski tak ada kisah kecil yang manis. Namun, sebagai Istri
yang baik, ia mencoba untuk setia mendampingi suaminya pergi. Entah bagaimana tempat nanti ia tinggal.
Bersambung

No comments:
Post a Comment