Monday, September 11, 2017

SEPENGGAL KISAH MARYUMAH (CERPEN)

"Dalam gelap yang begitu pekat, cahaya mampu bersinar menembus dinding keras, meski lewat celah-celah kecil sekalipun."

Ia melirik ke arah pakaian yang aku kenakan sambil bibirnya membentuk kerucut.
"Baju apa yang kau pakai tuh, mau (nandak!) Menari!" ucapnya.
Aku hanya tersenyum geli mendengar ucapan yang keluar dari bibir wanita tua yang aku panggil baba. (nenek). Ia selalu mengkritik hal-hal yang tidak sama dengan pemikirannya. Maklum usianya sudah menginjak sembilan puluh, entah berapa usia yang sebenarnya, ia pun juga tak pernah mengetahui pasti.
"Model sekarang bajunya ini Baba." kataku.
Spontan bibirnya manyun mendengar perkataanku.
"Dulu ya......."
Nah kalau sudah begini, ia akan menceritakan kisah hidupnya, entah karena faktor usia atau memang terlalu panjang kisah perjalanan hidupnya, ada saja sepenggal cerita yang terlewat.
***
Aku menatap pepohonan yang tumbuh subur di sekitar halaman rumahku, terasa sejuk, tapi ada rasa sesak di dada ketika melihatnya, dan air mata pun mengalir begitu saja. Mungkin sebegitu dalamnya luka yang ada di hatinya saat itu, hingga hari-harinya dilewati dengan menggali tanah untuk di tanami pohon-pohon yang menjulang tinggi. Hatiku terasa masih belum sanggup melepas kepergian-nya, masih berharap mendengar ceritanya, mungkin ada sepenggal cerita yang terlewat olehku saat itu.
Inilah sepenggal kisah Maryumah. Ialah Maryumah-ku, lahir sebagai gadis desa, setiap hari ia berkeliling desa untuk menjual singkong rebus, untuk itu ia harus melewati persawahan, dan sungai kecil yang mengalir deras. Seusai berjualan, ia mengasuh ponakan-nya yang masih bayi. Terkadang, ia menganggap ada rasa adil dari perlakuan ibu dan saudara-saudaranya, namun ia tetap menjalani, meski-pun dalam hatinya sesekali mengeluh. 
Seperti hari biasanya, Maryumah kembali ke rumah setelah langit biru mulai berganti warna jingga. Saat itu ada seorang laki-laki tua yang datang menemui ayahnya.  Maryumah tak sengaja bertemu dengannya saat melangkah ke dalam rumah. Dilihat dari pakaian, dan kendaraannya (dokar), ia langsung tahu bahwa ini tamu penting dari kota.
Lelaki tua itu tersenyum ke arah Maryumah.
"Itu siapa? Putrimu?" tanya tamu itu ke ayah Maryumah
"Iya, Maryam. Putri kecilku." 
Tamu itu menganggukkan kepala. 
Setelah itu mereka berbicara pelan, setengah berbisik. Hingga Maryumah tak dapat mendengar percakapan ayah dan tamunya.
"Maryam, Sini!" panggil ayahnya.
Maryam yang duduk tak jauh dari kursi tamu, segera mendekat ke arah ayahnya.
"Maryam, nanti kau akan menjadi menantu-nya."
"Iya, Maryumah mau kan?" tanya tamu itu.
Entah apa yang di rasakan, detak jantung Maryumah berdetak hebat, padahal tak pernah sekali-pun ia melihat wajah pria yang akan menjadi suaminya. Mungkin, karena sebelumnya ia tak pernah menyukai laki-laki.
Hari telah berganti malam, Maryumah masih terjaga menatap langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Pikirannya masih melayang, teringat kejadian siang tadi. Kenapa tamu itu memintanya untuk menjadi menantu?, pikirnya. Maryumah tak sadar, meskipun kulit putihnya mulai menggelap karena terkena terik matahari sepanjang hari, dan keringat yang menetes dari kulit kepala hingga membasahi pipinya, tapi paras cantik-nya tak bisa di tertutupi. Hidung-nya mancung sempurna, dan bola mata yang indah, membuat siapa saja tahu bahwa ialah Maryumah, gadis keturunan arab.
***
Gaun putih melekat indah di tubuh Maryumah, riasan wajah sederha semakin menegaskan wajah indahnya. Tangan Maryumah gemetaran ketika melihat laki-laki muda datang bersama tamu yang mengunjungi rumahnya minggu lalu. Kepalanya ter-tunduk malu saat laki-laki yang sebentar lagi akan jadi suaminya mencium tangan ayah Maryumah. 
"Maryumah kamu sudah kotor?" tanya salah satu saksi nikah.
Kakak Maryumah segera menyenggol lengan kanannya. 
"Iya." jawab Maryumah. Meski ia sendiri tak mengerti tentang pertanyaan yang diajukan untuk dirinya, ia hanya berkata apa yang kakaknya ajarkan kemarin.
Maryumah diam, bergeming di sudut kamar, ia hanya memandangi suaminya yang mengeluarkan koper besar yang di bawahnya dari rumah.
“Maryam, sini!” panggilnya lembut.
Mendengar laki-laki memanggil namanya, seketika itu nafasnya terasa tidak karuan. Kening Maryumah mengerut saat melihat isi koper laki-laki yang baru saja dinikahinya tadi siang. Aneh, pikir Maryumah, ia jauh-jauh membawa koper besar hanya membawa beberapa pakaian saja. Namun, yang jauh mencengangkan ia malah membawa tumpukan buku yang hampir memenuhi isi koper-nya.
“Maryumah, pilihlah buku yang kamu suka!” katanya, sambil melirik kemudian tersenyum ke arah wajah cantik istrinya.
Kepala Maryumah ter-tunduk. Tubuhnya merosot, ia duduk dan menutupi kedua matanya.
Laki-laki ikut duduk di lantai yang terbuat dari semen, ia hanya menatap dengan rasa bersalah ke arah Maryumah tanpa berkata sedikitpun. Perlahan, ia mengusap lembut tangan isterinya, yang isak tangisnya masih terdengar.
“Maryam, Kenapa? Ada apa?”
“Umar, aku tidak bisa baca, apalagi harus membaca buku setebal itu.”
Umar memberanikan diri membuka kedua tangan yang masih menutupi wajah Maryumah. “Kalau hanya itu, aku akan membacakan-nya untukmu malam ini, tapi hari berikutnya kau yang baca.”
“Umar aku tidak bisa baca.” ucapnya sekali lagi.
“Aku yang akan mengajar sampai kau bisa.”
Di bawah sinar lampu templok yang sinar-nya hanya menerangi ke wajah mereka berdua, Umar membacakan pelan-pelan cerita roman untuk Maryumah.
***
Umar sudah bersiap diri untuk pergi ke luar kota, mencari pengalaman hidup bersama isteri dan putri sulungnya. Sebenarnya, Maryumah sangat berat meninggal tanah tempat ia dilahirkan, meski tak ada kisah kecil yang manis. Namun, sebagai Istri yang baik, ia mencoba untuk setia mendampingi suaminya pergi. Entah bagaimana tempat nanti ia tinggal.
Bersambung











No comments:

Post a Comment