Ada hari di mana aku
ingin tidur lebih lama lagi.
Berteman dengan malam
yang langitnya dipenuhi bintang.
Tapi apa daya mentari
terus saja menimpa wajah-ku,
ia tak membebaskan-ku
untuk terus berada dalam mimpi.
Aku telah terjaga, dan
membiarkan mataku melihat bayang-mu.
Menatap bayang-mu, tak
hentinya membuat-ku mengeluarkan air mata,
hingga aku tersimpuh
lemah tak berdaya.
Jika waktu mengizinkan, aku tak ingin sekadar bayang-mu,
tapi dirimu yang
menemani ku di sini.
Katamu, kita ini hidup
dalam realita, tapi meski begitu kesepian
yang kurasakan terus
saja menggelut-ku.
Kau mungkin telah
terbiasa dengan dunia barumu di sana,
namun aku di sini
kehilangan dunia ku.
Kini hidupku terbatas
dalam lingkaran kerinduan, seraya
menunggu-mu menembus
jarak yang memisahkan kisah kita berdua.

No comments:
Post a Comment