Hey, kenalin gue Tito. Masa lalu yang kelam, ngebuat gue jadi terkenal di
kampung. Tapi, masa lalu yang tragis itu bukan milik gue. Gue punya wajah yang
lumayan cakep, karena buyut gue yang terkenal dengan kegantengannya. Tapi,
kegantengannya itu yang membuat buyut gue memutuskan mengutuk tujuh
keturunanya, biar nggak punya wajah cakep kayak dia. Gue anak yang terkutuk
itu. Tapi, kutukan itu sedikit memudar di wajah gue, mungkin karena gue udah
keturunan yang paling bontot. Keturunan ke-7.
Masa lalu itu, mempengaruhi kehidupan gue sekarang.
Apalagi, masa lalu ayah gue yang tragis. Babe gue pernah gagal nikah sama
Alexa, primadona kampung, keturunan Belanda. H-1, Alexa tiba-tiba minta
pernikahannya dibatalin, dan lebih memilih menikah sama dokter David, orang
kampung sebelah. Alhasil, kampung kelahiran gue ini pernah bentrok sama kampung
sebelah. Mungkin, itu yang dinamakan perang dunia ke II.
Babe gue nikah, dan punya anak gue yang terkenal cerdas.
Ini semua, berkat babe dan emak gue yang nggak pernah ketinggalan sholat
Tahajud. Babe gue berharap, gue bisa jadi dokter, lalu ngalahin dokter David. Hmm..babe,
jadi dokter itu bukan kompetisi.
Alexa memutuskan pindah ke Tamrin, Jakarta setelah
menikah sama David. Gue tahu cerita ini dari Pak Ustad, yang pernah membantu
mendamaikan antara keluarga gue, dan keluarga Alexa. Orang tua Alexa masih
tinggal satu kampung sama gue. Setiap dateng ke rumah orang tuanya, dia datang
sembunyi-sembunyi. Biasanya dia dateng bareng Pevita, anaknya.
Gue jadi inget pertama kalinya gue ketemu sama Pevita.
“Monster! Monster!” ejek Gue seraya tertawa
terbahak-bahak. Sumpah! Dulu dia jelek banget. Banyak bintik merah di wajah,
dan tangannya di tambah dengan giginya yang sedikit tonggos.
“Awas, ya! Pevita bilangin ke Mami!” ancam Pevita.
“Nggak takut!”
Pevita nangis, dan segera meninggalkan gue yang asyik
main sepak bola di lapangan. Sebenarnya, gue takut kalau Pevita sampai ngaduh
ke Maminya.
Ternyata, ketakutan gue terjadi. Pevita sama Alexa dateng
samperin gue yang masih di lapangan.
“Hey, kamu anak siapa? Ayo, minta maaf!” ujar Alexa.
Gue terpaksa ikutin perintahnya. “Maaf.” ucap Gue, tangan
gue gemeteran.
“Nggak mau! Kamu jahat! Ngolokin Pevita.” seru Pevita
seraya kedua tangannya dilipat di dada.
“Hey, nggak boleh gitu, sayang!” kata Alexa menoleh
sekilas ke arah Pevita, lalu melihat ke arah gue.
Pevita menunduk sambil memanyunkan bibirnya. Lucu.
“Kamu anak siapa?” tanya Alexa lagi.
“Faiz. Muhammad Faiz.” ucap Gue.
Gue bisa melihat mulut Alexa menganga, setelah dengar
ucapan gue. Dia tersenyum, dan buru-buru ngajak Pevita pergi.
***
Setiap gue masuk sekolah, babe selalu yang paling
rempong. Dia cari sekolah, yang nggak ada Pevita-nya. Entah itu, Pevita anak
Alexa, Pevita Pearce, atau Pevita yang lainnya.
Kepala babe mendadak pusing, setelah lihat hasil
pengumuman online siswa-siswi yang di terima. Gue sama Pevita bakal satu sekolah!
“Pindah aja!” seru Babe.
“Babe, itu SMA favorit. Mana Tito tahu, kalau bakal satu
sekolah.”
“Tapi, nanti lo bakalan satu sekolah sama Pevita. Nggak
boleh!”
Ampun, dah! Seribu satu cara gue pikirin, biar dibolehin
sama babe.
“Gini aja, deh Babe. Kalau Pevita sampai masuk IPS, Tito
bakal masuk IPA. Nggak bakal ketemu lagi, kan!” kata Gue, ngeyakin Babe.
“Beneran!” seru Babe seraya menaikkan alisnya.
“Iya.”
“Emm... Kalau gitu, Babe setuju!”
Gue hampir lompat dari sofa, dengar ucapan babe, yang
barusan terdengar ke telinga gue. Meskipun, menurut gue, alasan yang gue kasih
nggak masul akal. Nggak peduli! Yang penting, gue bisa satu sekolah sama
Pevita, ralat. Sekolah favorit.
“Tapi, ada syarat lain!” lanjut Babe.
“Apa, nih?”
“Lo, harus punya pacar!” Astaugfirallah! Dosa.
“Babe, Tito sekolah itu biar pinter, bukan cari jodoh!”
celetuk Emak gue.
Dengerin itu, Babe!
“Terserah! Tapi, kalau nggak mau ikut syarat Babe....
Pindah sekolah. Gampang, kan!”
Emak gue cuma bisa geleng-geleng kepala.
Hmm, nggak ada punya plihan lain. “Iya. Tito nurut sama
Babe.”
“Ini yang bikin Babe sayang sama lo. Lo anak sholeh, To!”
***
Kisah Gue sama Pevita dimulai.
Gara-gara babe. Gue malah kepo, sama Pevita. Kayak apa,
ya, wajahnya sekarang? Apa dia tahu tentang hubungan maminya dan babe gue di
masa lalu? Penasaran.
Nggak butuh waktu lama, setelah MOS berakhir, teman-teman
sekelas gue pada ngomongin Pevita. Badrun, temen sebangku gue, sampai bayangin
pacaran sama dia. Katanya, kecantikan Pevita di luar batas manusia, setengah
malaikat. Gue ragu, tapi penasaran sama omongan Badrun.
Badrun ngajak gue ngintipin Pevita di kelas 10-C,
sedangkan gue di kelas 10-A. Jarak antara kelas gue sama Pevita, nggak terlalu
jauh. Nggak perlu Badrun nunjuk, gue udah feeling. Bidadari yang lagi berdiri
di depan kelas itu, Pevita. Gue lihat teman cowok yang sekelas sama Pevita pada
senyum-senyum sendiri. Kena hipnotip.
Deg! Tiba-tiba, jantung gue berdegup kencang. Gue
berharap terkena serangan jantung, daripada harus jatuh cinta sama Pevita.
Gue heran, anak cewek yang gue dulu ejek “Monster” menjelma
jadi cantik, setelah enam tahun nggak ketemu. Kemana bintik merah dan gigi
tonggosnya? Apa dia operasi plastik? Kayaknya, nggak mungkin. Eee..kok, gue
jadi belain Pevita, ya.
Sebenarnya, gue bisa aja ngedeketin Pevita. Tapi, ya
tahu, lah, masa lalu babe yang ironis itu, bikin gue mundur. Gue takut aja,
babe bakal kumat darah tingginya.
***
Plakk!!
Gue meringis, meskipun tamparan yang mengarah ke pipi
gue, nggak terlalu sakit. Tapi, gue malu banget, jadi tontonan anak-anak di
kantin sekolah.
“Kamu kesurupan?! tiba-tiba nampar gue.”
“Lo kan, yang nyebarin kalau gue play girls?!” seru
Pevita, suaranya sedikit bergetar.
“Jangan asal nuduh! Gue nggak mau lagi berurusan sama
lo.”
“Terus, siapa lagi kalau bukan lo!” ucap Pevita sambil
jari telunjuknya mengarah ke tangan gue. Cara dia marah, masih sama kayak waktu
kecil.
“Eh, Pevita, lo bukan anak kecil! Tanya dulu, jangan asal
main tangan!”
Pevita tertunduk dengar ucapan gue, lalu mendongakkan
wajahnya lagi. “Lo juga masih sama aja kayak dulu!” kata Pevita, lalu berlari
meninggalkan gue.
Dia masih inget. Perasaan gue campur aduk. Senang
sekaligus sedih.
***
Semenjak kejadian di kantin, beredar gosip tentang hubungan gue sama
Pevita. Mantanlah, sahabat jadi musuh. Sampai akhirnya, masa lalu babe gue
terungkap. Tapi, yang gue pikirin bukan itu. Pevita sudah seminggu ini nggak
masuk sekolah. Jujur, gue jadi kangen.
“Babe, kenapa Emak?” tanya gue, lihat Babe yang nangis
seraya meluk bantal favoritnya.
Emak langsung narik gue ke dalam kamar.
“Sttt... jangan keras-keras ngomongnya! Babe lo lagi
sedih.”
“Iya, sedih kenapa?” tanya gue pelan.
“Babe lo baru dapet kabar, seminggu yang lalu, Alexa
meninggal.”
“Haah! Alexa, maminya Pevita.”
Emak gue ngangguk-ngangguk. “Babe lo baru percaya, kalau
Alexa sakit tumor. Makanya, dulu dia batal nikal sama Babe lo.”
“Kasihan, Babe.”
“Makanya, lo jangan ngikutin Babe buat benci sama Pevita!
Lihat Babe, nyesel sekarang.”
Emak, gue emang benci sama Pevita. Benar-benar cinta.
***
“Hey!” sapa gue.
Mata Pevita membesar lihat gue, duduk di sebelahnya. “Ada
apa?”
“Nggak apa-apa. lo masih marah?”
Pevita menggelengkan kepalanya. “Gue lagi, yang harusnya
minta maaf. Maaf, ya. Dan, maaf juga, baru bisa bilang sekarang.”
“Banyak banget, yang harus gue maafin. Gimana, ya.... Emmm,”
goda gue, “Iya gue maafin.”
Pevita tersenyum, lalu dia pegang pipi gue.
Dag Dig Dug..... gue bisa dengar bunyi jantung gue.
Kayaknya, gue harus ke dokter jantung. Daripada jantung gue copot. Gue pindahin
tangan Pevita ke atas tangan gue.
Pevita menunduk malu, lalu melepaskan tangannya dari gue.
“Gue udah bikin malu lo, di depan temen-temen.”
“Gue malu, kalau gue sampai gagal nikah sama lo.”
Pevita tertawa. Ada semburat merah di wajahnya. Cantik.
“Cie... Cie... Balikan! Pevita nggak bisa move on!” seru
temen-temen sekelas Pevita, yang mergokin gue sama Pevita.
-Selesai.
Ih kok baper๐ Pevita, kok jdi ngebayangin mukanya Pevita Pearce ya ๐.
ReplyDelete