DRAMA
WONG ASU
[Set 1]
Tahun 1998 merah putih Indonesia ter-kikis angin. Pejabat tinggi tunduk di bawah kekuasaannya. Yang lainnya ribut
mencari sesuap nasi di jalanan karena himpitan ekonomi.
Sang penguasa berjalan dengan
gagah, di tangannya memegang uang rakyat. Mulut dan perut para pejabat tinggi ter-sumpal uang uang rakyat, dan mereka layaknya anjing anjing mengikuti kemana-pun sang penguasa negeri.
(BREAK: Puisi Sang Penguasa karya
Prastama)
Dengan wajah penuh ketakutan dan
keraguan, sang menteri datang menghadap sang penguasa negeri.
Peluh keringat membasahi sekujur
tubuh sang menteri, Dengan terbata-bata, sang menteri mengeluarkan suaranya kepada
sang penguasa “Maaf pak, saya ingin membicarakan kebijakan yang kemarin...Menurut
sa..saya....”. Sang penguasa hanya melirik sebentar kemudian memberikan tanda
pada bawahannya, belum sempat sang menteri melanjutkan pembicaraan-nya yang
sempat terpotong, lalu datang pria berjas hitam menyeret dan ditenggelamkannya.
[Set
2]
Di tempat lain, masyarakat
merasakan dampak krisis ekonomi. Pasar pasar sepi, beberapa kios dagangan
gulung tikar, namun tak satupun yang berani bicara layaknya manusia. Mereka
semua seperti para anjing anjing yang hanya menggonggong kelaparan.
“Sayur sayur”, pedagang terlihat
kelaparan, hanya peluh keringat yang jatuh namun tak satupun pembeli yang
menghampiri dagangan mereka.
Anak muda berjas almamater
berjalan merangkak di sekeliling pasar, Dan salah satu dari mereka berdiri
menegakkan bahunya dan berteriak.
“Hai!!kita ini bukan anjing”,
“Kenapa kalian cuma diam?”, “sadar donk!!” anak muda itu menatap orang orang yang di sekelilingnya. Seketika
itu suasana menjadi hening. semua terdiam, tercengang mendengar suara yang
keluar dari mulut salah satu mahasiswa, kemudian yang lainnya ikut sadar bahwa
mereka adalah manusia.
Sekilas terdengar hentakan suara
sepatu, tiba tiba laki laki berjas hitam datang mencekik salah satu mahasiswa.
kemudian semua ribut, riuh, yang terdengar hanya suara teriakan dan bau anyir
darah manusia yang memenuhi udara.
[Set 3]
Sang penguasa negeri itu berdiri
dengan gagah-nya dan di dampingi Paspampres. Menonton darah-darah yang tumpah
di tanah air negerinya sendiri.
Anak muda berjas almamater
bangkit dari sakit yang menusuk badannya. Darah dan keringat menyatu di tubuh mereka.
Mereka menegakkan kembali merah putih yang penuh darah. di tusuknya kayu tiang bendera ke perut mereka yang mengganti bumi pertiwi ini menjadi kuburan.
(BREAK
:Puisi Sajak Bulan Mei 1998 Karya W.S. Rendra)
Anjing sang penguasa memberontak,
dan menyeret sang penguasa dengan rantai yang di pegang-nya. Kemudian sang
penguasa jatuh terguling dari tempat dia berdiri.
Para manusia manusia itu akhirnya
sadar bahwa mereka bukanlah anjing yang hanya menuruti kemauan sang majikan.
Mereka berhak berbicara, berteriak, menyerang, dan menyuarakan untuk
menghentikan deformasi.
Mereka rela membiarkan darah
darah ini tertanam pada tanah air tercinta untuk reformasi negeri.
“MERDEKA!!! MERDEKA!!! MERDEKA
!!!”
Naskah ini merupakan cerita fiksi. DRAMA WONG ASU ini terinspirasi dari kejadian Mei 1998, sebagai generasi
penerus bangsa kami ikut berduka sekaligus bangga dengan apa yang di lakukan
Mahasiswa semasa itu yang telah mengukir reformasi. Drama ini pertama kali di dipentaskan pada tanggal 31 Agustus 2015 bertepatan pada acara Dies Natalies Fak
Sastra dan Filsafat UPM yang ke 14.
No comments:
Post a Comment